Pages

Monday, March 11, 2013

Bangsa Yang Berhenti Membaca

Sebuah "scoop" dari subject yang saya ikuti di Scoop it, menarik perhatian saya. Berikut saya tulis ulang  secara bebas. Artikel ini ditulis oleh seorang penulis Mexico, David Toscana,  dalam bahasa Spanyol yang kemudian ditulis dalam bahasa Inggris oleh Kristina Cordero dan dimuat di New York Times tanggal 6 Maret 2013. Artikel aslinya dapat dibaca disini :
-------------------

Bangsa yang berhenti membaca

Ini adalah kesimpulan David Toscana tentang kebiasaan membaca dan dunia pendidikan pada umumnya di Meksiko. Dia mengawali tulisannya dengan pernyataan bahwa saat ini di Mexico lebih banyak orang yang bersekolah tapi ternyata lebih sedikit yang benar-benar belajar. Tingkat literasi, untuk sebatas kemampuan baca dasar seperti membaca marka jalan atau koran, boleh jadi meningkat tapi untuk membaca buku yang sebenarnya sama sekali tidak.

Meskipun mengalami peningkatan di bidang industri dan menghasilkan lebih banyak insinyur, tapi Mexico mengalami penurunan drastis secara sosial politis dan ekonomis karena sebagian besar penduduknya tidak membaca. Lantas apa upaya Pemerintahnya? Segera setelah menjabat Presiden Baru Mexico, Enrique Peña Nieto, mengeluarkan program pembaharuan pendidikan. Salah satunya dengan memenjarakan Ketua serikat guru Mexico ke penjara dengan tuduhan penggelapan uang sebesar 200 juta dolar.

Entah tuduhan itu benar atau tidak, tapi ternyata memang dunia pendidikan Meksiko memiliki masalah serius dengan guru. Kementrian pendidikan Mexico lebih banyak berkonsentrasi pada masalah guru dan serikatnya dan bukan pada peningkatan pendidikan secara umum. Serikat guru di Mexico lebih sering berdemo dibanding serikat pekerja lainnya. Dan yang lebih memprihatinkan, guru-guru inipun kurang pendidikan profesionalnya. Mereka kebanyakan mewarisi pekerjaan ini atau membelinya. Ia menyaksikan sendiri pada demo besar-besaran tahun 2008 di Oaxaca. Diantara puluhan ribu guru yang mogok tersebut tak satu pun ada yang membaca buku. Yang ada mereka menyalakan musik disko keras-keras, bermain kartu, menonton tivi atau membaca majalah gosip.

David Toscanao menambahkan keprihatinannya dengan menceritakan pengalamannya dalam sebuah acara promosi membaca di hadapan 300 murid sekolah. Ketika dia menanyakan siapa yang suka membaca, hanya ada 1 (satu) yang tunjuk tangan. Ketika audiens ditanya kenapa tidak suka membaca, tidak ada yang bisa menjawab dengan kalimat jelas dan tegas selain bergumam dan menggerutu dengan tidak sabar. Bahkan guru yang mendampingi murid-murid tersebut pun tidak mau mendukung saat Mr. Toscana meminta semua hadirin mengambil buku untuk dibaca. Pengalaman nyata yang dialami putrinya juga sama memperihatinkannya. Saat berusia 15 tahun (mungkin sekitar kelas 9 atau kelas 10), guru bahasanya menghapus fiksi dari daftar bacaan di kelas. "Kami hanya akan membaca buku biologi dan sejarah. Dengan demikian kami membaca sekaligus belajar". Sekolah-sekolah di Meksiko, dan mungkin juga di beberapa negara lain, lebih mementingkan apa yang mudah diajarkan daripada apa yang benar-benar perlu dipelajari oleh murid. Dengan demikian, kemanusiaan jadi tersisihkan.

Upaya peningkatan minat baca bukannya tidak pernah dilakukan. Pada tahun 2002, President Vicente Fox meluncurkan kampanye membaca dengan memilih seorang pemain sepakbola terkenal, Jorge Campos, sebagai duta baca. Jutaan bukupun dicetak dan perpustakaan dibangun. Tapi sayangnya gurunya tidak mendapatkan pelatihan dan tidak ada waktu khusus untuk membaca di sekolah. Program itu lebih berfokus pada buku dibanding pada pembacanya. Akibatnya buku banyak menumpuk di gudang, berdebu dan akhirnya dibuang karena rusak atau lembab.

Beberapa tahun sebelumnya, Mr Toscano pernah berbicara dengan Menteri Pendidikan Mexico tentang membaca di sekolah. Ia tidak dapat mengerti apa yang diinginkan oleh Mr. Toscano. Menurutnya di sekolah sudah diajarkan membaca. Dan menurutnya tidak perlu murid membaca buku semacam "Don Quixote", yang penting mereka bisa membaca surat kabar.

Masalah di Meksiko bukanlah terletak pada anggaran. Mereka menganggarkan lebih dari 5 % produksi domestik bruto (GDP)-nya untuk pendidikan, presentase yang hampir sama dengan di AS. Bukan pula terletak pada metodologi pendidikan yang tepat untuk mengatasi permasalahan ini. Yang diperlukan adalah perubahan tujuan pendidikan itu sendiri, yang seharusnya mengarah pada pembiasaan membaca. Mungkin malah Pemerintah Mexico sendiri yang tidak ingin rakyatnya benar-benar jadi terpelajar. Buku dapat memberi inspirasi, menumbuhkan cita-cita dan ambisi serta harga diri. Mereka takut jika rakyat jadi lebih berpendidikan mereka akan menuntut pendidikan yang lebih dari sekedar pelatihan untuk menjadi tukang.
========================

My insight:
Mudah-mudahan kita tidak mengalami hal seperti Mexico. Tanda-tandanya hampir ada. Saat ini boleh dibilang dunia perbukuan dan kegiatan membaca di Indonesia mengalami penurunan. Dewan Buku sudah dibubarkan. Pemilihan atau penghargaan buku berkualitas tidak ada.

Secara pribadi saya menilai saat ini sulit menemukan buku karya asli (bukan terjemahan) yang baik dan menarik. Buku anak kebanyakan ditulis oleh anak-anak juga. Di satu sisi, anak-anak sudah bisa menulis dan karyanya layak diterbitkan adalah hal yang membanggakan. Disisi lain kualitasnya tidak bisa sebaik yang kita harapkan, karena bagaimana pun anak-anak ini belum memiliki pemahaman penuh terhadap realitas dan belum memiliki tehnik penyampaian nilai yang baik.

Buku remaja kebanyakan berkisar tentang fiksi romantis, hantu-hantuan atau humor-humor dangkal. Ini tidak sepenuhnya salah juga, karena biar bagaimana buku-buku seperti ini cukup berjasa menjembatani remaja dengan buku. Kita tahu remaja saat ini lebih suka menggunakan internet dan ponsel dalam kesehariannya.
Untuk penerbitan buku umum, temanya berkisar tentang resep masakan, mode (khusunya jilbab), motivasi, traveling, buku how to, dan sedikit tentang biografi dari tokoh yang sedang naik daun. Banyak buku yang berasal dari tweet atau kumpulan tulisan blog. Sedikit sekali saya temukan buku yang ditulis denganbaik dan 'serius' yang menggugah saya untuk membaca (karena saat ini minat dan kebiasaan membaca saya sedang turun).

Di sekolah, sedikit sekali yang menyadari pentingnya membaca buku. Hanya sedikit guru yang menganjurkan murid membaca buku di luar buku teks pelajaran. Seorang rekan guru mengeluhkan kurangnya daya tahan murid membaca dan kurangnya dukungan guru lain dalam menciptakan iklim membaca untuk kesenangan atau untuk memenuhi rasa ingin tahu. Ia bahkan mengeluhkan kurangnya guru yang bisa membangkitkan rasa ingin tahu murid.

Saya sendiri sebagai pustakawan di sekolah, sudah agak lama menyerah terhadap keadaan ini. Tulisan ini dan obrolan dengan rekan guru yang merasakan keprihatinan yang sama menyadarkan bahwa saya harus berbuat sesuatu. Seberapa pun kecilnya itu, harus dimulai dari saya. Dan mulai dari sekarang. 

Thursday, December 6, 2012

Curation

Agak sulit mencari padanan kata yang tepat untuk istilah curation dalam bahasa Indonesia. Sebenarnya dalam bahasa Inggris sekalipun kata curation tidak ditemukan dalam kamus bahasa Inggris klasik seperti Merriam-webster, dalam arti tidak ditemukan arti yang tepat untuk kata ini. 
Tapi mungkin kita kenal dengan istilah kurator, yaitu seseorang yang bertugas untuk mengelola koleksi museum atau galeri. Kurator bukan sekedar mengumpulkan benda benda bersejarah dan menyimpannya di museum, tapi dia memberi makna, penjelasan dan mengatur koleksi sedemikian dalam susunan tertentu.
Untuk mudahnya, kita gunakan saja istilah kurasi sebagai padanan kata curation. Wikipedia mendefinisikan kurasi sebagai kegiatan merawat, mengolah dan memelihara sekumpulan karya seni atau artefak. Belakangan muncul istilah digital curation dan content curation. Digital curation adalah proses pemilihan, pengawetan, perawatan, pengumpulan dan pengarsipan aset digital. Sedangkan content curation adalalah kegiatan mencari, mengumpulkan dan menyajikan informasi dalam bentuk digital dalam bidang tertentu.  Jadi penekanannya ada pada isinya. 

Lalu apa urgensinya bagi pustakawan untuk memahami kurasi ? Kita mungkin sudah sering mendengar bahwa di era informasi seperti saat ini, keberadaan perpustakaan dan pustakawannya kadang dipertanyakan. Seperti apakah masih perlu perpustakaan/pustakawan jika orang dapat mencari informasi apapun yang dibutuhkan dari internet? Mari kita melihatnya dalam perspektif pendidikan (sekolah).

Saat ini sistem pendidikan semakin bergeser dari teacher-centered ke student-centered. Meskipun kita telah lama mengenal CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif), bahkan kini istilah tersebut sudah ditinggalkan,  tetap saja hingga kini pembelajaran pada sistem kurikulum yang berlaku saat ini (KTSP) dirasa masih belum cukup berpusat pada siswa.  Dan pada prakteknya memang masih begitu. Saat ini sedang digodok kurikulum baru, yaitu kurikulum 2013, yang diharapkan akan benar-benar berpusat pada siswa. 

Jika kurikulum menuntut siswa aktif mencari tahu bukan lagi diberitahu, maka mereka perlu dibekali dengan ketrampilan mencari, menemukan, menggunakan dan menilai informasi. Saat ini informasi sangat banyak dan mudah kita temukan di internet. Masalahnya sudahkan siswa, atau bahkan mungkin kita juga, mengetahui bagaimana mencarinya? Oke ada Google (baca: mesin pencari) yang membantu kita menemukan informasi yang kita cari, tapi apakah cukup? Ketika mesin pencari menyajikan sekian ribu tautan untuk informasi yang kita cari, dapatkan  siswa memilih yang tepat dan benar?

Jadi sekarang pustakawan memang benar-benar harus bertindak sebagai pengelola informasi bukan sekedar penjaga perpustakaan. Pustakawan harus dapat bekerjasama dengan guru. Bahkan harus selangkah lebih maju dari guru dalam pengetahuan tentang sumber informasi mana yang lebih tepat, strategi pencarian dan cara penggunaan teknologi informasi komunikasi. 

Kurasi merupakan langkah yang lebih maju dari sekedar pencarian informasi melalui mesin pencari. Kita tahu saat ini siapa saja bisa menyimpan dan menyebarkan informasi di internet. Tidak ada lembaga yang berwenang mengatur validitas dan reliabilitas data di internet. Maka diperlukan adanya orang yang mencari informasi dalam bidang tertentu, mengumpulkan informasi yang akurat dan mudah dicerna, memberi ulasan terhadap kumpulan informasi teresebut dan menyajikannya untuk kepentingan khalayaknya. Orang ini lah yang disebut content curator. Sangat mirip dengan kurator di museum ataupun galeri seni bukan?
Mengambil informasi langsung dari internet seperti minum dari pipa hidran 
  
Yang penting dari kurasi adalah isinya. Jika kita berminat pada satu hal tertentu, kita tentu mencari dan mengumpulkan hanya yang terbaik atau bernilai bukan? Contohnya seorang filatelis (kolektor perangko) hanya akan mengoleksi perangko yang mempunyai nilai tertentu. Begitu juga jika kita meng-kurasi sebuah topik, maka kita tidak akan mengumpulkan dan menyajikan informasi yang tidak akurat, basi atau tidak bernilai. Content is the king, adalah tagline dalam dunia kurasi.

Lalu apa saja yang bisa kita kurasi
Ada begitu banyak konten dari berbagai tool yang bisa kita kurasi. Artikel majalah, blog atau posting dari blog, slide presentasi, video, e-book, infographics, gambar, wiki bahkan kicauan (tweet) di twitter 


Untuk melakukan kurasi dengan sukses, Weiberger (2012) menyarankan langkah-langkah berikut ini:
1. Find (temukan)
     - identifikasi niche anda
     - cari sumber isi ( ini bisa dilakukan dengan menjalin jaringan belajar pribadi (PLN) 
     - Kumpulkan apa anda temukan 
2. Select (pilih):
     - saring isi
     - pilih berdasarkan originalitas, kualitas dan relevansinya         
3. Editorialize (beri pengantar)
     - Kaitkan isi dengan konteksnya
     - beri pengantar atau intisarinya
     - sajikan sudut pandang anda
4. Arrange (Susun)
     - Isi perlu di urutkan dan diatur tampilannya 
5. Create (Sajikan)
     - pilih formatnya, bisa :
          * Scoop.it, Paper.li (seperti majalah atau koran)
          * Storify, Storiful (seperti bercerita)
          * Twitter curation
     - sebutkan sumbernya
6. Share (Bagikan)
     - identifikasi khalayak kita
     - Media apa yang mereka gunakan? Promosikan di situ
7. Engage (libatkan)
     - Buka peluang untuk masukan dari khalayak dan perhatikan komentar mereka
8. Track (Pantau)
     - Pantau keterlibatan orang
     - Pantau kebaruan pemikiran
     - Perbaiki

Idealnya praktek kurasi ini dilakukan dalam 3 P yaitu Pencarian, Pemahaman dan Publikasi yang dapat disarikan dalam tabel sebagai berikut:

 PencarianPemahamanPublikasi
Tentukan topik dan susun sumber-sumbernyaKemas ulang dalam bentuk tulisan atau presentasiCantumkan sumbernya
Cari sebanyak mungkinSimpan, beri penjelasan atau komentarSajikan hanya bahan yang terbaik
Pilih yang berkualitas, jangan ambil sampahIntegrasikan ke dalam tugas
2 kali sehari @ 15 menit30 - 60 menit per hari2 kali sehari @ 15 menit

Ada banyak alat kurasi (curation tools) yang tersedia di internet. Berikut ini adalah beberapa yang populer:
1. Scoop.it
    Ini merupakan curation tools yang pertama saya kenal dan yang hingga saat merupakan  
    favorit saya. Saya bahkan sudah mencoba membuat akun di sini saat saya belum  
    benar-benar memahami apa itu kurasi. Di sini kita  tidak harus melakakukan kurasi 
    untuk topik tertentu, tapi cukup mengikuti (follow) topic yang telah dibuat orang lain. 
    Tentu saja jika kita tidak puas, dan saat kita sudah lebih memahami kerjanya, kita bisa  
    mulai melakukan kurasi untuk topik yang kita minati.
    Kita bisa menambahkan marklet scoop.it di browser kita, agar mudah mengambil     
    materi yang kita temukan saat kita browsing ke kumpulan topik yang kita kurasi.   
    Istilahnya men-scoop.

2. Pinterest
    Tools ini juga cukup populer, terutama saat dikteahui bahwa Michele Obama 
     menggunakan tools ini. Tampilannya sangat menarik, karena biasanya orang 
     mengumpulkan gambar-gambar disini.
3. Storyful
4. Storyfi
     Keduanya mirip. Feature utamanya terletak pada adanya pengantar dari apa yang kita  
     kumpulkan dan kita sajikan di sini. Jadi seperti kita bercerita. Jika orang bercerita ada 
     yang menggunakan boneka misalnya, disini kita menggunaka video, tweet atau foto 
     yang kita kumpulkan dari berbagai sumber

5. Paper.li
    Tools ini memungkin kita mengumpulkan informasi dan menyajikannya dalam bentuk 
    yang mirip koran.

Masih belum jelas? Bagus, silahkan coba saja sampai bisa memahaminya sendiri. Begitulah proses belajar. Jika diatas saya menyebut Pustakawan harus tahu tentang kurasi ini, sebenarnya ini bisa dilakukan siapa saja. Terutama oleh guru yang juga berkepentingan mengumpulkan bahan ajar dan sering mencarinya dari internet atauberbagai sumber lain.
Selamat belajar....:)

Bibliografi:


Anonim. (2012, Juni 28). Apa itu Content Curation. Retrieved December 5, 2012, from Tips jualan online: http://tipsjualonline.com/apa-itu-content-curation/
Firelli, G. (2011, September 15). Content Curation: Definition and generation. Retrieved December 5, 2012, from Iloveseo: http://www.iloveseo.net/content-curation-definition-and-generation/
Kanter, B. (2011, October 4). Content Curation Primer. Retrieved December 5, 2012, from Beth's Blog: http://www.bethkanter.org/content-curation-101/
Kanter, B. (2011, October 4). Curation Planning Questions. Retrieved December 5, 2012, from Wikispaces: http://socialmediafoundations.wikispaces.com/Curation+Planning+Questions
Rosenbaum, S. (2012, April 28). 5 Tips for Great Content Curation. Retrieved December 5, 2012, from Mashable: http://mashable.com/2012/04/27/tips-great-content-curation/
Setiawan, D. (2012, August 22). SlideShare. Retrieved December 7, 2012, from SlideShare: http://www.slideshare.net/denydeyn/presentation1-14046742#btnNext
Valenza, J. (2012, November 17). Curation. Singapore, Singapore.
Weisberger, C. (2012, April 16). Teaching Students to Become Curators of Ideas: The Curation Project . Retrieved November 2012, 2012, from The St Edward University Social Media Class: http://academic.stedwards.edu/socialmedia/blog/2012/04/16/teaching-students-to-become-curators-of-ideas-the-curation-project-3/


 

Kualitas Buku

Sudah lama buku-buku ini menumpuk di perpustakaan. Ini adalah sebagian dari buku-buku kiriman dari Dinas Pendidikan yang berjumlah sekitar 11 box. Sebagian besar sudah diproses dan berpindah ke rak. Sebagian kecil lainnya sudah disumbangkan ke perpustakaan lain karena isinya yang kurang sesuai. 

Muncul kecurigaan bahwa penulisan buku ini adalah proyek 'crash program' dari Pemerintah dalam hal pengadaan buku untuk sekolah. karena melihat fakta-fakta sebagai berikut:
  • sebagian besar penerbit buku-buku ini bukanlah penerbit yang sudah terkenal dalam penerbitan buku
  • sebagian besar penulisnya menulis banyak judul buku dengan tema yang beragam pula
  • beberapa tema ditulis oleh dalam lebih dari satu buku dengan penulis dan penerbit yang berbeda namun judul dan isinya hampir sama
  • memang ada buku yang ditulis oleh yang ahli dibidangnya, tapi hanya sedikit saja
  • penulis yang, maaf saja, bukan ahli dibidangnya ini memang melengkapi buku yang ditulisnya dengan daftar pustaka, tapi bahan pustaka yang tercantum hampir semua berasal dari internet. Sudah bisa diduga, cara penulisannya pun tidak selalu mengikuti kaidah yang benar
Itu baru penilaian sekilas. Iseng-iseng saya coba meneliti lebih jauh lagi. Ada satu seri buku yaitu Seri Ensiklopedia IPTEK yang terdiri dari 4 judul yang berbeda yang ditulis oleh orang yang berbeda pula (yang termasuk dalam jajaran 'bukan ahli'nya itu). Ini buku bilingual. Jadi sebenarnya isi buku itu hanya setengah dari tebal bukunya yang lebih dari 100 halaman dengan ukuran 21 x 28.5 cm.

Pertama saya lihat bahasa Inggrisnya. Kelihatan sekali bahwa bahasa Inggrisnya merupakan hasil Google translate. Itu pun masih menyisakan bahasa Indonesia yang terselip dalam bahasa Inggris yang cukup 'hancur'. Misalnya:
"In 1913, experts called Danish fisika Neils Bohr atom Rutherford failed to improve the percobaannya of hydrogen atom spectrum."
(Contoh diambil dari judul Ensiklopedia IPTEK: Kimia dan unsur. Terbitan Multazam Mulia Utama. Penulis :Andari  Saptika, 2010. halaman 21)

Saya coba ketik satu kalimat dari buku tersebut dalam kotak di mesin pencari Google. Ternyata sumbernya ada di wikipedia. Saya kira hanya kalimat awalnya saja yang mengambil langsung dari artikel di wikipedia, tapi tenyata seluruhnya memang di-copy paste langsung dari laman tersebut. Di-copy plek begitu aja semuanya. Yang sedikit berbeda hanya pemotongan paragrafnya saja.

Ini jelas-jelas menganggu buat saya yang cukup lama belajar mengenai Literasi informasi dan mencoba mengajarkannya kepada atau sekedar mensosialisasikan kepada orang lain. Orang disebut "melek informasi" aatau information literate jika dia tahu kapan dia memerlukan informasi, dimana mendapatkannya dan bagaimana menggunakannya. Ada etika yang harus diperhatikan agar tidak masuk dalam kategori plagiat. 

Buku ini jelas-jelas masuk kategori plagiarisme. Apalagi ini adalah buku yang disebarkan luaskan secara komersial (diperjualbelikan), bukan hanya untuk kalangan terbatas saja. Bagaimana saya mau menekankan agar murid2 (dan guru juga) tidak mengcopy paste dalam menuliskan karya ilmiahnya, jika kenyataannya buku-buku yang beredar juga merupakan hasil copy paste?

Ah, saya seperti pahlawan kepagian ya yang teriak2 mengenai masalah plagiarisme sementara orang-2 masih belum terbagun kesadarannya akan hal ini...