Pages

Tuesday, May 10, 2016

Perpustakaan Digital: Sejarah, kondisi dan masa depannya

Tulisan ini merupakan terjemahan bebas dari tulisan Howard Besser berjudul "The past, present and future of digital Libraries".


========================================================================
Peran Penting Perpustakaan dalam Rumpun Ilmu Humaniora

Sejak dulu perpustakaan sangat penting dalam Ilmu Humaniora. Perpustakaan menyediakan akses untuk karya asli, pembahasan dan ulasan yang membantu kontekstulisasi karya tersebut. Perpustakaan digital tampaknya sama pentingnya dengan perpustakaan tradisional. Perpuatakaan digital bukan hanya menyajikan sumber karya asli, kontekstualisasi dan pembahasan tapi juga menyajikan serangkaian sumber dan layanan tambahan.

Perpustakaan mengumpulkan duplikat sumber berkualitas tinggi dari berbagai repositori sehingga tampak seperti berasal dari satu repositori bagi pengguna. Peneliti dapat meneliti duplikat koleksi langka yang berada di berbagai institusi tanpa harus mengunjungi satu per satu institusi tersebut. Peneliti yang melakukan analisis leksikal dapat menghitung frekuensi kata atau frasa bukan hanya pada satu karya saja tapi pada keseluruhan karya. Perpustakaan digital memungkinkan pengelola repositori untuk menyajikan banyak interpretasi secara berasamaan dari sebuah karya, pengarang atau ide. Perpustakaan digital bukan hanya memungkin orang melakukan hal sama yangtelah dilakukan sebelumnya secara lebih cepat dan lebih baik, tapi juga membuka kemungkinan ilmuwan di bidang humaniora melakukan berbagai hal baru yang belum terpikirkan.


Apakah Perpustakaan itu?

Perpustakaan bukan sekedar koleksi, melainkan terdiri dari berbagai unsur (termasuk layanan terhadap pemustaka, penatalayanan koleksi, keberlanjutan dan kemampuan untuk menemukan bahan pustaka di luar koleksinya) dan menjunjung tradisi etis ( termasuk kebebasan berpendapat, privasi dan persamaan akses).  Dalam dekade terakhir ini, perubahan teknologi dan pengurangan anggaran menyebabkan terjadinya perubahan di perpustakaan. Hal ini menimbulkan banyak perdebatan tentang peran perpustakaan di masa lalu dan masa yang akan datang dan spekulasi apakah perpustakaan punya masa depan. Christin Borgman berpendapat bahwa perpustakaan konvensional tidak akan hilang hanya karena adanya koleksi digital. Menurutnya peran perpustakaan adalah "memilih, mengumpulkan, mengorganisasi, memelihara dan menyediakan akses informasi dalam berbagai media, ke berbagai komunitas pengguna". Besser menambahkan, ada 4 karakteristik utama perpustakaan umum, yaitu sebagai fasilitas fisik, sebagai pusat pengembangan pendidikan, memiliki misi untuk melayani mereka yang kurang mendapat pelayanan dan sebagai penjamin akses informasi publik.

Hampir semua perpustakaan konvensional memiliki unsur layanan yang kuat, khususnya layanan kepada masyarakat. Publik secara umum menganggap pustakawan sebagai orang yang sangat berperan dalam memenuhi kebutuhan informasi mereka. Perpustakaan umumnya memberikan layanannya kepada berbagai pengguna. Mereka sangat mahir dalam mendayagunakan koleksi yang sama untuk melayani kelompok pengguna yang berbeda.

Perpustakaan juga miliki unsur penatalayanan terhadap koleksinya. Hal ini dapat berupa pengawasan terhadap sirkulasi dan penataan buku di rak hingga upaya preservasi terhadap koleksinya. Bagi perpustakaan riset, preservasi menjadi tanggungjawab utama, sementara bagi perpustakaan sekolah, perpustakaan umum, dan perpustakaan khusus, ada tanggung jawab untuk memelihara koleksi inti lokal selama mungkin.

Perpustakaan merupakan organisasi yang berlangsung lama. Meskipun kadang-kadang perpustakaan ada yang tutup, tapi secara umum perpustakaan merupakan entitas sosial yang cukup stabil. Meski ada perubahan, masyarakat tetap bergantung pada layanan perpustakaan.

Unsur lain dari perpustakaan adalah layanan penyajian informasi yang berada di luar koleksi perpustakaan itu sendiri. Perpustakaan menganggap dirinya sebagai bagian dari jaringan kerjasama antar perpustakaan sedunia yang bekerjasama dalam menyajikan informasi bagi individu. Alat seperti union catalog dan layanan pinjaman antar perpustakaan telah menjadi semacam jaringan interoperabilitas perpustakaan yang digunakan untuk mencari dan menyajikan bahan pustaka jauh sebelum ada internet.

Perpustakaan juga memiliki tradisi etis yang kuat. Hal ini meliputi perlindungan terhadap privasi pembaca, akses informasi yang sama, keaneka ragam informasi, dan layanan untuk pihak yang kurang beruntung. Untuk mendukung nilai etis ini, Pustakawan juga berfungsi sebagai penjaga informasi. Perpustakaan di Amerika bahkan merancang sistem sirkulasi agar hanya menghasilkan statistik kumpulan peminjaman, bukan data peminjaman individu yang dapat digali untuk mengetahui apa yang telah dipinjam oleh seseorang.

Perpustakaan sangat menjunjung tinggi asas persamaan akses informasi. Pustakawan berusaha untuk menyajikan informasi kepada mereka yang tidak mampu membeli informasi di pasar bebas. American Library Association (ALA) bahkan pernah menuntut Undang-Undang Kesopanan Komunikasi (Decency Communication Act) karena melarang pemustaka mengakses informasi yang dapat mereka akses di luar perpustakaan. Pustakawan juga lah yang berdiri di garda depan dalam perjuangan melawan privatisasi informasi pemerintah AS dengan alasan bahwa hal tersebut dapat membatasi akses informasi bagi mereka yang tidak mampu.

Pustakawan juga berusaha untuk menyajikan keanekaragam informasi. Perpustakaan mengumpulkan informasi dari berbagai perspektif yang berbeda. Bahkan ada perpustakaan yang menonjolkan keberagaman koleksi dalam kebijakan pengembangan koleksinya.

Dengan semakin banyaknya informasi dalam bentuk digital, ada kesalahan persepsi yang menganggap bahwa kumpulan bahan pustaka yang tersaji secara online dapat disebut sebagai perpustakaan digital. Perpustakaan, baik yang digital maupun yang konvensional, bukanlah sekedar kumpulan bahan pustaka, melainkan lembaga yang memberikan layanan dan memiliki tradisi etis yang merupakan bagian penting dari komunitas yang dilayaninya.


Sejarah Singkat Perpustakaan Digital

Pengukuan pertama akan pentingnya perpustakaan digital diwujudkan dalam bentuk penggelontoran dana sebesar 24.4 milyar dolar untuk 6 universitas pada tahun 1994 untuk mengembangkan perpustakaan digital. Inisiatif ini merupakan proyek bersama NSF, ARPA dan NASA di perpustakaan Carnegie Mellon University, Univetristy of California-Barkeley, Univerisity of Michigan, University of Illinois, University of California-Santa Barbara dan Stanford University.

Projek berbiaya besar ini merupakan eksperimen ilmu komputer, terutama di bidang arsitektur dan temu-kembali informasi. Meskipun projek ini bereksperimen dengan koleksi digital, tapi jauh dari konsep perpustakaan.Tidak ada layanan koleksi, pengkatalogan, tidak ada pengguna dan tidak ada tradisi etis. Tahap ini disebut tahap eksperimental.

Pada akhir tahun 1998, Pemerintah Federal AS, kembali mengucurkan dana besar untuk membiayai projek-projek yang berkaitan dengan unsur layanan perpustakaan tradisional seperti pengkatalogan, keberlangsungan, dan hubungan dengan komunitas pengguna. Pada masa itu juga, pengelola perpustakaan konvensional mulai membangun koleksi digital.

Dengan semakin besarnya keterlibatan ilmuwan sosial dan pustakawan dalam projek digital ini, uppaya mulai beralih dari keperimen di bidang ilmu komputer ke projek yang bersifat lebih operasional. Tahap ini disebut "perkembangan" perpustakaan digital. Pada akhir tahun 1990-an, projek mulai mengarah pada unsur perpustakaan tradisoonal seperti penatalayanan koleksi dan interoperabilitas antar koleksi, meskipun upaya ini masih belum masuk tahap operasional.

Untuk masuk ke tahap "matang", perpustakaan digital perlu lebih banyak memasukkan unsur perpustakaan konvensional seperti keberlanjutan dan interoperabilitas dalam dunia digital. Para pengembang juga perlu mulai memikirkan untuk memasukkan unsur etis perpustakaan seperti kebebasan berpendapat, privasi dan persamaan akses.

Perkembangan perpustakaan digital dapat dilihat pada tabel berikut ini.

Tahap
Tahun
Sponsor
Kegiatan
I
Eksperimental
1994
NSF/ARPA/NASA
Eksperimen pada materi koleksi digital
II
Pengembangan
1998/99
NSF/ARPA/NASA, DLF/CLIR
Mulai mempertimbangkan pengkatalogan, keberlanjutan, komunitas pengguna
III
Matang
?
Didanai melalui saluran normal?
Perpustakaan digital yang berlanjut dan memiliki interoperabilitas


Bersambung ke Part 2




Wednesday, November 4, 2015

Motivasi Bergabung dengan Asosiasi Profesi

Sewaktu membuka-buka jurnal Access oleh2 dari Australian dulu itu, saya tertarik dengan dengan salah satu artikel pendek hasil survey tentang apa yang memotivasi para School Librarian di Australia untuk bergabung dengan ASLA, Australian School Library Association. Ada banyak motivasi mereka ternyata, saya tidak akan ungkapkan disini. Saya jadi iseng ingin menanyakan hal yang sama ke anggota ATPUSI yang ada di grup WhatsApps ATPUSI RAYA.

Saya tunggu 2 hari atau samapai ada yang memposting masalah lain, sebelum saya menyimpulkan hasil survey kecil-kecilan. Karena kalau sudah ada yang memposting masalah lain, biasanya perhatian sudah teralihkan. Baiklah inilah hasil survey kecil-kecilan tersebut.

Pertanyaan survey saya adalah:
" Saya bergabung dengan ATPUSI karena... (silahkan selesaikan kalimat tersebut)."
Ada 9 orang yang merespon posting saya. Hal ini berarti hanya 18% dari jumlah anggota grup yang seluruhnya berjumlah 50 orang. Beberapa orang merespon dengan memberikan lebih dari 1 alasan (multiple reasons).

Saya kemudian menggolongkkannya dalam 12 kategori jawaban. Jadi berikut ini adalah alasan mengapa sebagian orang dalam grup ATPUSI RAYA bergabung dangan ATPUSI:


  • Belajar dari sesama rekan untuk memecahkan masalah yang dihadapi di tempat kerja
  • Meningkatkan kompetensi ( 4 orang)
  • Mempelajari tentang perpustakaan sekolah
  • aktualisasi diri sebagai Tenaga Perpustakaan Sekolah (2 orang)
  • Membesarkan asosiasi
  • Memasyarakatkan perpustakaan sekolah
  • Mengembangkan perpustakaan sekolah
  • Membantu Tenaga Perpustakaan Sekolah lain
  • Meningkatkan citra profesi tenaga perpustakaan sekolah
  • Berupaya untuk memecahkan masalah dalam dunia perpustakaan sekolah
  • Agar memiliki bargaining postion dalam berhadapan dengan pihak lain
  • Mewujudkan profesionalisme tenaga perpustakaan sekolah
  • Berkumpul dengan sesama rekan se-profesi
  • Memperjuangkan aspirasi
Mungkin hasil survey ini tidak bisa mewakili alasan atau motivasi seluruh anggota ATPUSI untuk bergabung dalam asosiasi profesi. Ini karena tingkat partisipasi yang bersuara yang rendah. Entah karena sibuk, tidak mengaanggap perlu atau merasa alasannya sudah terwakili. Dari sini saya menilai bahkan dalam lingkup sesama tenaga perpustakan sekolah, sebagain dari kita masih enggan bersuara. Atau tidak terbiasa "serius" dalam forum WhatsApp. Mungkin perlu penelitian lebih lanjut.



Thursday, February 19, 2015

Ringkasan Kursus: LIbrary Advocacy Unshushed. Week 1 - Values and Community

Advokasi yang efektif harus berdasar pada prinsip, nilai dan advokasi. Kepustkawanan yang baik itu bersifat transformatif. Artinya perpustakan dan pustakawan membuat perbedaan --perbedaan yang transformatif-- dalam kehidupan orang lain dalam komunitasnya.  Sayngnya tidak semua orangmenyadari hal tersebut. Masih banyak salah paham tentang perpustakaan dan layanan yang diberikannya. Kebanyakan orang mengira perpustakaan hanya sebatas tentang buku. Padahal meskipun layanan peminjaman buku adalah yang paling populer, itu bukanlah esensi perpustakaan. Menurut David Lankes (2012), misi perpustakaan adalah "membangun masyarakat dengan cara memfasilitasi pembentukan pengetahuan dalam komunitas". Ini merupakan misi yang besar, yang lebih dari sekedar menyediakan dan meminjamkan bahan pustaka. Ini adalah tentang menghubugkan manusia dengan ide dan dengan sesamanya.
Perpustakaan dan Pustakawan hadir untuk komunitas yang dilayaninya. Apakah itu perpustakaan umum, Perguruan Tinggi, sekolah atau lembaga penaungnya. Perpustakaan yang baik membuat perbedaan karena mereka "nyambung" dengan komunitasnya. Mereka paham dan dapat merespon kebutuhan komunitasnya karena mereka berkomunikasi dengan komunitasnya.

1. Nilai

Menurut Michael Gorman dalam bukunya "Our Endring Values", ada 8 nilai mendasar kepustakawanan, yaitu
  1. Kebebasan intelektual. Kepustakawanan mendukung kebebasan ekspresi pemikirana, hak asasi manusia untuk mengakses informasi yang tak populer dan tidak biasa serta materi yang mungkin kita sendiri tidak menyukainya.
  2. Privasi. Kita melindungi privasi orang dalam berinteraksi dengan sumber informasinya dengan ancaman pengawasan elektronik yang begitu mengepung kita.
  3. Literasi; yang merupakan pintu gerbang pemahaman dan pembelajaran.
  4. Rasionalisme. Kita bertekad mendukung dan membuat keptusuan berdasarkan bukti dan alasan. 
  5. Penatalayanan. Ini adalah nilai yang unik yang dimiliki kepustakawanan. Kit abukan hanyak sebagai penyedia layanan dan bahan pustaka tapi sebenarnya mengurus dokumentasi masyarakat untuk generasi selanjutnya.
  6. Persamaan. Perpustakaan dan Pustakawan mendukung persmaan akses ke berbagai pemikiran.
  7. Demokrasi. Perpustakaan yang baik menyediakan informasi dan memberdayakan pemilih dalam demokrasi.
  8. Layanan. Ini merupakan DNA kepustakawanan, yang mendasari kita untuk menggabungkan pengetahuan, empati dan dedikasi dalam konteks pemberian layanan di dunia yang serba materilistis ini.
David Lankes menekankan perlunya membuat sistem perpustakaan yang lebih partisipatoris. Pustakawan harus aktif dalam berhubungan dengan masyarakat dan merangsang tumbuhnya nilai partisipasi dalam komunitas. Jadi tidak sekedar menyediakan sistem dan layanan untuk komunitas.

2. Lingkungan Perpustakaan Dewasa ini 

Dewasa ini perpustakaan harus bersaing dengan institusi lain seperti lembaga kesehatan dalam hal penganggaran. Ada pihak-pihak yang mempertanyakan perlunya keberadaan perpustakaan. Perpustakaan umum, misalnya, kadang dianggap kurang penting dibanding lembaga kesehatan dan keamanan sehingga penganggarannya dikalahkan oleh anggaran kesehatan, pemadam kebakaran atau kepolisian.

Di Perguruan Tinggi, dimana seringkali disebut "perpustakaan adalah jantungnya universitas", perpustakaan dianggap kurang penting karena tidak berhubungan langsung dengan peningkatan jumlah pendaftaran mahasiswa dan kualitas hasil belajar.

 Di sekolah, perpustakaan kurang mendapat perhatian dan sudah pasti kurang anggaran.

3. Apa itu advokasi  

Kita (Pustakawan) mungkin sering menyampaikan betapa pentingnya perpustakaan melalui berbagai media. Tapi sebenarnya hal itu tidak dapat menjamin masa depan perpustakaan. Itu hanya salah satu bentuk promosi. Atau kita baru "kerepotan" saat perpustakaan dalam posisi terancam, entah itu akan ditutup atau dikurangi anggarannnya secara drastis.. Kita kemudian mengadakan kampanye "Selamatkan Perpustakaan". Padahal itu sudah terlambat. Pembahasan sudah selesai dan keputusan sudah diambil. Oleh karena itu, kita perlu memahami perbedaan anatar mempromosikan keberadaan perpustakaan dan beradvokasi.
  • Promosi adalah menyempaikan "Kami adalah demikian dan demikian, ini yang kami lakukan, ini cara bagaimana dan kapan mendapatkannya dan bahwa kami itu hebat". Contohnya informasi jam buka perpustakaan pada pembatas buku, brosur atau website.
  • Pemasaran diawali dengan pertanyaan seperti "apa yang anda butuhkan dan inginkan serta bagaimana kami memahami kebutuhan ini dan bisakah kami memberikannya". Dalam contoh mengenai jam buka perpustakaan adalah dengan mengadakan survey pengguna dan menganalisis penggunaan perpustakaan.
  • Advokasi berkaitan dengan promosi dan pemasaran tapi secar aumum advokasi adalah upaya memepengaruhi dalam suuatu permasalahan. Sebenarnya advokasi bukanlah upaya protes, tapi lebih sebagai upaya untuk secara terus menerus membangun relasi dan meningkatkan pemahaman para pembuat keputusan. Adalah adalah upaya membuat masalah atau keberadaan kita menjadi prioritas untuk dibahas oleh pengambil keputusan. Itulah sebabnya bisa jadi advokasi butuh waktu bertahun-tahun, kadang tidak kelihatan hasilnya atau malah jadi cemoohan orang. Contohnya advokasi mengenai persamaan hak wanita dalam pendidikan.

Dalam kepustakawanan, kita beradvokasi untuk anggaran, kebijakan atau hubungan. Biasanya kita memposisikan perpustakaan sebagai aset dalam masyarakat atau institusi penaungnya, kita sampaikan pada pembuat keputusan apa yang kita lakukan adalah prioritas masyarakat.
  • Kepada Pemerintah yang ingin meningkatkan ekonomi berbasis pengetahuan, kita advokasikan bahwa perpustakaan mendukung pembelajaran dab memfasilitasi pembentukan pengetahuan dan kreativiatas yang penting dalam perekenomian.
  • Kepada Perguruan Tinggi yang ingin memeprtahankan staf pengajar yang berkualitas tinggi kita sampaikan bahwa koleksi dan layanan perpustakaan merupakan alat untuk mencapai tujuan tersebut
  • Kepada Rumah Sakit yang ingin meningkatkan kualitas layanan dan perawatan, kita dapat meyakinkan bahwa diperlukan adanya Pustakawan Medis yang dapat membatu para dokter dalam diagnosis. 
Lobby merupakan bentuk khusus advokasi yang berkenaan dengan mempengaruhi pandangan dan keputusan legislator dan mereka yang berpengaruh.

Wednesday, January 14, 2015

Novel Young Adult

Sebenarnya sudah beberapa lama saya tertarik untuk mendalami lebih lanjut tentang buku remaja dan anak. Ini bermula dari keresahan saya sebagai Pustakawan sekolah di Indonesia yang tidak punya standar yang bisa dipakai untuk memilih buku remaja yang baik. Belum pernah saya tahu daftar buku yang sebaiknya dibaca remaja Indonesia. Sementara saya melihat ada beberapa lembaga atau media di luar negeri sana yang menerbitkan misalnya 100 best children/young adult book. Misalnya seperti yang diterbitkan oleh majalah Time baru-baru ini. Ini artikelnya.

Hari ini di tangan saya ada buku (novel) berbahasa Indonesia yang diberi embel-embel Young Adult. Terus terang, saat pertama memesan buku ini melalui Gramediaonline, embel-embel inilah yang menarik perhatian saya. Rupanya lini baru dari terbitan Gramedia, setelah sebelum teenlit, chicklit, metropop dan amore. Saya pikir ini ceritanya tentang remaja seperti cerita buku-buku untuk Young Adult terjemahan, ternyata young adult di sini benar-benar diterjemahkan secara harfiah, yaitu orang dewasa muda. Ini dilihat dari karakter buku ini yang merupakan anak kuliahan (mahasiswa). Sementara novel luar untuk young adult itu tokohnya biasanya remaja.

Saya kemudian jadi cari-cari informasi lebih lanjut, sebenarnya apa sih yang dimaksud dengan literatur atau buku untuk young adult ini? Berikut ini adalah hasil ‘tangkapan’ saya terhadap bebarapa tulisan yang saya temukan di internet. Oh, ya saya sengaja tetap menggunakan istilah Young Adult dan tidak mengartikannya sebagai remaja atau dewasa muda.

Menurut K. Bucher & M.L. Manning seperti yang dikutip education.com, kriteria novel young adult ini meliputi:

  • Menggambarkan usia dan perkembangan remaja yang ditunjukkan dengan tingkatan keterbacaan, pemikiran dan minat 
  • Menampilkan isu dan masalah kontemporer yang dihadapi remaja. Topiknya antara lain cara remaja berhadapan dengan orangtua atau figur dewasa lainnya, menghadapi penyakit dan kematian, menangani masalah tekanan teman sebayanya terutama dalam masalah dengan narkoba dan seks beserta akibatnya. 
  • Harus mempertimbangan pandang dunia berkenaan dengan keragaman sosial, kultural dan gender; isu lingkungan; politik global; dan keterkaitan internasional. 
Novel young adult merefleksikan perubahan yang dialami remaja. Mereka mencoba menjajal dunia dewasa dan belajar menerima konsekuensi dari tindakannya. Oleh karena itu, novel young adult menggambarkan pengalaman si tokoh yang berusia muda (remaja) dalam menghadapi masalahnya, berfokus pada tema yang diminati remaja dan menggunakan bahasa yang dipakai remaja. Biasanya memiliki plot dan karakter yang menarik.

Tujuan atau manfaat dari novel Young Adult ini antara lain:

  • Mengajarkan keragaman manusia dan dunia diluar komunitas mereka 
  • Sebagai bacaan hiburan 
  • Menunjukkan berbagai emosi manusia dan membuat mereka dapat merasakannya 
  • Menunjukkan realitas kehidupan manusia 
  • Memberikan pengalaman “semu” 
  • Memusatkan perhatian pada hal-hal penting yang menjaga keteraturan 
  • Menggambar fungsi institusi masyarakat 
  • Memungkinkan pembaca untuk menjelajah alam fantasi 
  • Memperkenalkan remaja pada penulis dan tulisan yang bermutu 
  • Meningkatkan daya analisis remaja terhadap karya sastra. 
Manfaat tersebut diatas hanya dapat dirasakan jika remaja benar-benar membaca.

Chuck Wendig dalam blognya “terribleminds” menuliskan 25 hal perlu kita ketahui tentang novel Young Adult, yang kemudian listnya bertambah menjadi 28. Berikut ini saya kutipkan sebagian yang menurut saya penting untuk lebih memahami novel Young Adult:


  1. Young Adult inu bukan genre, tapi pengelompokkan usia pembaca yang sesuai untuk jenis fiksi ini 
  2. Kelompok usia itu remaja. Biasanya yang disebut remaja adalah mereka yang berumur 12-18 tahun atau anak sekolah SMP-SMA. Catatan saya: Ternyata ada perbedaan persepsi tentang peruntukan usia untuk young adult ini. Ada yang mengatakan bahwa remaja(teens) itu untuk usia 12-14 dan dewasa muda (young adult) itu untuk 14+. Tapi ada juga yang menyebutkan bahwa novel young adult ini untuk usia 13-21 tahun. 
  3. Novel untuk Young Adult ini justru bisa memilik beragam genre, bisa fantasi-epik, percintaan, penyakit, alien, horor, misteri, sejarah, distopia (ini mungkin istilah yang agak asing buat kita, tapi cerita distopia banyak kita kenal melalui novel terjemahan seperti serial hunger games atau serial divergent). 
  4. Tokoh utamanya remaja 
  5. Biasanya sang tokoh ini memiliki masalah yang dihadapi remaja pada umumnya 
  6. Masalahnya bisa sex, obat dan minuman (ini karena yang dibahas adalah novel young adult barat lho ya..). Menurut Wendig, meskipun tidak semua remaja memiliki masalah tersebut, tapi masalah-masalah tersebut kenyataan ada dan dialami oleh banyak remaja. 
  7. Remaja itu hormonnya tidak stabil otaknya belum sempurna. Jadi bisa saja tindakannya sembrono yang pada akhirnya menimbulkan masalah buat dirinya dan lingkungannya. 
  8. Ingatkan kita dulu seperti apa waktu remaja dulu? Kurang lebih seperti itu juga lah dunia remaja sekarang. 
  9. Biasanya ditulis menggunakan sudut pandang orang pertama. Ini karena remaja cenderung lebih menyukai narasi orang pertama. 
  10. Umumnya, tapi tidak selalu, cerita disampaikan dalam bentuk saat ini (present tense). Nah, ini agak sulit diterangkan karena bahasa Indonesia tidak mengenal tense atau perbedaan waktu.
  11. Lebih pendek, terutama untuk seri pertama dari buku serial 
  12. Umumnya lagi, tempo ceritanya lebih cepat dan lebih banyak dialog 
  13. Peran orang dewasa dalan novel remaja umumnya bukan sebagai tokoh sentral, tapi hanyak pendukung. 
  14. Kadang-kadang, si tokoh remaja berpikiran dewasa. 
  15. Tapi bertindak seperti remaja pada umum. Melakukan berbagai kesalahan, misalnya. 
  16. Cerita lebih berani keluar dari “jalur”, misalnya cerita twilight saga, dimana tokoh vampir digambarkan bukan sebagai sosok yang menyeramkan tapi tampan dan cantik. 
  17. Temanya bisa cukup berat seperti masalah agama, psikologis, sosial, kesehatan dan sebagainya yang sangat dialami juga oleh remaja. 
  18. Peruntukannya tidak bisa disamakan dengan film. Misalnya film Hunger Games bisa saja diperuntukkan bagi usia 17 tahun keatas karena cukup menggambarkan kekerasan. Catatan saya: mungkin ini kenapa adegan ciuman di buku terasa tidak vulgar dibanding dengan adegan yang sama di film. 
  19. Biasanya disukai atau dinikmati juga oleh orang dewasa 
Yang pasti novel ini bisa sangat populer dan menjadi best-seller.

Itu sekilas hasil bacaan saya dari beberapa artikel populer. Sepertinya saya harus baca tentang hal ini yang lebih ilmiah. PR selanjutnya.

 Sumber:

  • K.Bucher. (2014, May 5). Qualities of Young Adult Literatures. Diambil kembali dari Education.com: http://www.education.com/reference/article/qualities-young-adult-literature/
  • Wendig, C. (2013, June 4). 25 things you should know about Young Adult Fiction. Diambil kembali dari Terribleminds: http://terribleminds.com/ramble/2013/06/04/25-things-you-should-know-about-young-adult-fiction/

Wednesday, January 22, 2014

Flipped Classroom

Hari ini tanpa sengaja saya belajar apa itu Flipped Teaching atau Flipped Classroom. Karena blog ini diniatkan untuk menuliskan apa yang saya pelajari, maka di sini ingin saya tuliskan apa yang secara singkat saya pahami.

Flipped classroom atau pembelajaran terbalik, adalah model pembelajaran dimana murid memplejaran materi baru dengan membaca, atau menyaksikan video pembelajaran secara mandiri (di rumah) dan kemudian di kelas pelajaran itu dibahas atau didiskusikan kembali.  Di sebut terbalik, karena biasanya pembelajaran konvensional dimulai dengan guru menyampaikan materi pelajaran baru di kelas (biasanya dengan cara ceramah) lalu memberi tugas atau PR.

Umumnya Flipped Classroom menggunakan sumber dari pihak ketiga, yang banyak tersedia di internet. Seperti di Khan Academy, Youtube atau Teachertube. Tapi jika tidak dapat menemukan materi pelajaran yang tepat atau bahasa (Inggris) masih menjadi kendala, maka guru dapat membuat sendiri video pembelajaran atau e-book dan kemudiannya meng-uploadnya di internet atau situs e-learning sekolahnya.

Infografik berikut ini bisa menjelaskan apa dan bagaimana Flipped Classroom itu

Flipped Classroom
Created by Knewton and Column Five Media


Untuk mempelajari lebih jauh lagi tentang Flipped Classroom, silahkan simak beberapa artikel berikut;

Menurut Jon Bergman, sebelum menerapkan Flipped Learning ada 10 pertanyaan yang harus kita jawab, yaitu:

1. Apa yang akan dibalik? Apakah sebuah sebuah materi, bab, atau mata pelajaran?

2. Dari mana sumber videonya? Membuat sendiri, mengambil dari sumber lain atau kombinasi keduanya?

3. Jika akan membuat video sendiri, software apa yang akan digunakan? Berikut ini pilihan software yang bisa digunakan:
Untuk PC :
Untuk iPad
  • ScreenChomp : Gratis
  • Educreations : Gratis
  • Show Me : Gratis
  • Explain Everything : US$ 3
  • Doceri : gratis (sudah termasuk dalam pembelian iPad)
Kamera video atau kamera iPad juga bisa digunakan untuk merekam video pembelajaran yang akan dibuat.

4. Setelah video didapat atau dibuat, dimana akan ditempatkan? Yang terbaik adalah dalam LMS (Learning Management System) atau e-Learning system yang ada di sekolah. Bisa juga diunggah situs vendor penyedia LMS seperti Moodle, Schoology, Haiku Learning, Edmodo dll. Atau dapat juga diunggal ke situs penyedia video seperti YouTube, SchoolTube, Screencast.com atau cloud drive seperti DropBox atau Google Drive.

5. Bagaimana cara mengecek apakah siswa menonton atau mengakses video pembalajaran tersebut? apakah perlu dicek?

6. Bagaimana cara menyampaikan pada siswa tentang cara mengakses video? 

7. Bagaimana kita mengajar siswa cara memahami video tersebut? Menonton video pembelajaran tentu berbeda dengan menonton video film.

8. Bagaimana memberi pemahaman kepada siswa bahwa model pembelajaran seperti ini akan merubah cara belajar di sekolah?

9. Bagimana memberi pemahaman kepada orangtua bahwa model pembelajaran seperti ini akan memberikan pengalaman belajar yang berbeda?

10. Bagimana pengaturan waktu di kelas? Mungkin dengan cara pembelajaran seperti ini akan lebih sedikit waktu yang digunakan di kelas? Hal ini akan tergantung pada tingkatan kelas yang diajar dan falsafah pribadi mengenai pendidikan secara umum.

Sumber : Jon Begerman

Tuesday, October 29, 2013

Posting di Social Media



Berapa jenis akun sosial media (jejaring soasial) yang anda punya? Pembaca blog ini pasti punya minimal 1 akun sosial media. Facebook seperti hampir dimiliki sebagian besar kita. Apalagi?Twitter? Ini yang katanya lagi in. Apalagi di kalangan anak muda. Jadi inget waktu beberapa waktu yang lalu ada anak homestay dari Singapore. Mereka minta izin untuk menggunakan internet di perpustakaan. Saya mempersilahkan sambil menjelaskan bahwa situs pertemanan seperti Facebook hanya boleh diakses pada akhir pekan. Mereka bilang, no problem. We're no longer use Facebook, now it's Twitter that is in.
 Itu beberapa bulan yang lalu. Tapi, to tell you the truth, saya baru mencoba sosial media ini akhir-akhir ini. Buat akunnya sih sudah lama, tapi karena kurang familiar, gak pernah digunakan. Ah, rasanya saya manusia jadul banget deh...

Saya juga baru pakai Pinterest, meskipun sudah tahu sejak beberapa waktu yang lalu. Baru sekarang tergerak untuk buat akun. Ini karena saya sedang senang mencari ide-ide untuk rumah dan kebun. Eh, ternyata ini bisa juga juga hal lain seperti pengembangan diri dan hal-hal yang berhubungan dengan urusan pekerjaan. Saya buat beberapa board, tapi pin-nya belum banyak. Nanti saya akan jelaskan apa dan bagaimana Pinterest sambil mengenalkan Pinterest saya.

Sebenarnya apa sih sosial media itu? Rasanya hampir semua media di internet saat ini sudah bersifat sosial dalam arti bisa digunakan untuk bersosialisasi. Maklum sekarang kan internet sudah masuk versi Web 2.0 yang interaktif. Menurut Merriam-Webster dictionary, sosial media adalah bentuk komunikasi elektronik dimana penggunan membentuk komunitas maya untuk berbagi informasi, ide, pesan pribadi dan hal lain (video)
forms of electronic communication (as Web sites for social networking and microblogging) through which users create online communities to share information, ideas, personal messages, and other content (as videos) . http://www.merriam-webster.com/dictionary/social%20media, diakses pada 24 Oktober 2013.
Dengan adanya smartphone, social media lebih meluas lagi penggunaannya karena dapat diakses melalui ponsel. Bentuk dan salurannya banyak sekali. Dulu sekali kita kenal Friendster dan Multiply. Sekarang Facebook, dan Twiiter. Tentu saja juga ada banyak jejaring sosial yang bersifat lokal.


Jadi apa saja social media itu? Wah, ya banyak sekali. Yang terpopuler di Indonesia pada tahun 2012 menurut Ptira Satvika dari StrategoCorp adalah:
1. Twitter
2. Facebook
3. Multiply
4. Kompasiana
5. Kaskus
6. MindTalk
7. Mig33
8. LinkedIn
9. Pinterest
10. Google Plus (g+)
http://www.trenologi.com/201212318289/statistik-saluran-media-sosial-populer-di-indonesia-tahun-2012/ diakses pada 24 Oktober 2013.

Tadinya saya menulis itu semua itu sebagai pengantar untuk untuk menulis ulang apa yang saya baca dari sebuah artikel di Lifehack.org yang berjudul "Which social media should post that thing you want to share on". Ada info graphic yang ditampilkan, seperti berikut ini:




Entah ini serius, atau sekedar gurauan, karena sumbernya dari CollegeHumor. Tapi bisa saja kita gunakan ini sebagai panduan sekaligus mengenal social media sesuai fungsi nya yang mungkin media tersebut tidak terlalu populer di Indonesia. Artikel tersebut menyimpulkan dari infografik diatas bahwa jika kita kita ingin menyampaikan suatu hal fakta yang menarik atau pencerahan, sebaiknya jika posting di Reddit atau Tumblr atau Twitter jika isinya tidak lebih dari 140 karakter. Jika ingin menyampaikan apa yang kita rasakan, media yang pas adalah Facebook. Untuk menampilkan foto menarik, gunakan Instagram. 

Tapi sepertinya sih, kebanyakan kita menyampaikan itu semua di satu media saja: Facebook 


Monday, March 11, 2013

Bangsa Yang Berhenti Membaca

Sebuah "scoop" dari subject yang saya ikuti di Scoop it, menarik perhatian saya. Berikut saya tulis ulang  secara bebas. Artikel ini ditulis oleh seorang penulis Mexico, David Toscana,  dalam bahasa Spanyol yang kemudian ditulis dalam bahasa Inggris oleh Kristina Cordero dan dimuat di New York Times tanggal 6 Maret 2013. Artikel aslinya dapat dibaca disini :
-------------------

Bangsa yang berhenti membaca

Ini adalah kesimpulan David Toscana tentang kebiasaan membaca dan dunia pendidikan pada umumnya di Meksiko. Dia mengawali tulisannya dengan pernyataan bahwa saat ini di Mexico lebih banyak orang yang bersekolah tapi ternyata lebih sedikit yang benar-benar belajar. Tingkat literasi, untuk sebatas kemampuan baca dasar seperti membaca marka jalan atau koran, boleh jadi meningkat tapi untuk membaca buku yang sebenarnya sama sekali tidak.

Meskipun mengalami peningkatan di bidang industri dan menghasilkan lebih banyak insinyur, tapi Mexico mengalami penurunan drastis secara sosial politis dan ekonomis karena sebagian besar penduduknya tidak membaca. Lantas apa upaya Pemerintahnya? Segera setelah menjabat Presiden Baru Mexico, Enrique Peña Nieto, mengeluarkan program pembaharuan pendidikan. Salah satunya dengan memenjarakan Ketua serikat guru Mexico ke penjara dengan tuduhan penggelapan uang sebesar 200 juta dolar.

Entah tuduhan itu benar atau tidak, tapi ternyata memang dunia pendidikan Meksiko memiliki masalah serius dengan guru. Kementrian pendidikan Mexico lebih banyak berkonsentrasi pada masalah guru dan serikatnya dan bukan pada peningkatan pendidikan secara umum. Serikat guru di Mexico lebih sering berdemo dibanding serikat pekerja lainnya. Dan yang lebih memprihatinkan, guru-guru inipun kurang pendidikan profesionalnya. Mereka kebanyakan mewarisi pekerjaan ini atau membelinya. Ia menyaksikan sendiri pada demo besar-besaran tahun 2008 di Oaxaca. Diantara puluhan ribu guru yang mogok tersebut tak satu pun ada yang membaca buku. Yang ada mereka menyalakan musik disko keras-keras, bermain kartu, menonton tivi atau membaca majalah gosip.

David Toscanao menambahkan keprihatinannya dengan menceritakan pengalamannya dalam sebuah acara promosi membaca di hadapan 300 murid sekolah. Ketika dia menanyakan siapa yang suka membaca, hanya ada 1 (satu) yang tunjuk tangan. Ketika audiens ditanya kenapa tidak suka membaca, tidak ada yang bisa menjawab dengan kalimat jelas dan tegas selain bergumam dan menggerutu dengan tidak sabar. Bahkan guru yang mendampingi murid-murid tersebut pun tidak mau mendukung saat Mr. Toscana meminta semua hadirin mengambil buku untuk dibaca. Pengalaman nyata yang dialami putrinya juga sama memperihatinkannya. Saat berusia 15 tahun (mungkin sekitar kelas 9 atau kelas 10), guru bahasanya menghapus fiksi dari daftar bacaan di kelas. "Kami hanya akan membaca buku biologi dan sejarah. Dengan demikian kami membaca sekaligus belajar". Sekolah-sekolah di Meksiko, dan mungkin juga di beberapa negara lain, lebih mementingkan apa yang mudah diajarkan daripada apa yang benar-benar perlu dipelajari oleh murid. Dengan demikian, kemanusiaan jadi tersisihkan.

Upaya peningkatan minat baca bukannya tidak pernah dilakukan. Pada tahun 2002, President Vicente Fox meluncurkan kampanye membaca dengan memilih seorang pemain sepakbola terkenal, Jorge Campos, sebagai duta baca. Jutaan bukupun dicetak dan perpustakaan dibangun. Tapi sayangnya gurunya tidak mendapatkan pelatihan dan tidak ada waktu khusus untuk membaca di sekolah. Program itu lebih berfokus pada buku dibanding pada pembacanya. Akibatnya buku banyak menumpuk di gudang, berdebu dan akhirnya dibuang karena rusak atau lembab.

Beberapa tahun sebelumnya, Mr Toscano pernah berbicara dengan Menteri Pendidikan Mexico tentang membaca di sekolah. Ia tidak dapat mengerti apa yang diinginkan oleh Mr. Toscano. Menurutnya di sekolah sudah diajarkan membaca. Dan menurutnya tidak perlu murid membaca buku semacam "Don Quixote", yang penting mereka bisa membaca surat kabar.

Masalah di Meksiko bukanlah terletak pada anggaran. Mereka menganggarkan lebih dari 5 % produksi domestik bruto (GDP)-nya untuk pendidikan, presentase yang hampir sama dengan di AS. Bukan pula terletak pada metodologi pendidikan yang tepat untuk mengatasi permasalahan ini. Yang diperlukan adalah perubahan tujuan pendidikan itu sendiri, yang seharusnya mengarah pada pembiasaan membaca. Mungkin malah Pemerintah Mexico sendiri yang tidak ingin rakyatnya benar-benar jadi terpelajar. Buku dapat memberi inspirasi, menumbuhkan cita-cita dan ambisi serta harga diri. Mereka takut jika rakyat jadi lebih berpendidikan mereka akan menuntut pendidikan yang lebih dari sekedar pelatihan untuk menjadi tukang.
========================

My insight:
Mudah-mudahan kita tidak mengalami hal seperti Mexico. Tanda-tandanya hampir ada. Saat ini boleh dibilang dunia perbukuan dan kegiatan membaca di Indonesia mengalami penurunan. Dewan Buku sudah dibubarkan. Pemilihan atau penghargaan buku berkualitas tidak ada.

Secara pribadi saya menilai saat ini sulit menemukan buku karya asli (bukan terjemahan) yang baik dan menarik. Buku anak kebanyakan ditulis oleh anak-anak juga. Di satu sisi, anak-anak sudah bisa menulis dan karyanya layak diterbitkan adalah hal yang membanggakan. Disisi lain kualitasnya tidak bisa sebaik yang kita harapkan, karena bagaimana pun anak-anak ini belum memiliki pemahaman penuh terhadap realitas dan belum memiliki tehnik penyampaian nilai yang baik.

Buku remaja kebanyakan berkisar tentang fiksi romantis, hantu-hantuan atau humor-humor dangkal. Ini tidak sepenuhnya salah juga, karena biar bagaimana buku-buku seperti ini cukup berjasa menjembatani remaja dengan buku. Kita tahu remaja saat ini lebih suka menggunakan internet dan ponsel dalam kesehariannya.
Untuk penerbitan buku umum, temanya berkisar tentang resep masakan, mode (khusunya jilbab), motivasi, traveling, buku how to, dan sedikit tentang biografi dari tokoh yang sedang naik daun. Banyak buku yang berasal dari tweet atau kumpulan tulisan blog. Sedikit sekali saya temukan buku yang ditulis denganbaik dan 'serius' yang menggugah saya untuk membaca (karena saat ini minat dan kebiasaan membaca saya sedang turun).

Di sekolah, sedikit sekali yang menyadari pentingnya membaca buku. Hanya sedikit guru yang menganjurkan murid membaca buku di luar buku teks pelajaran. Seorang rekan guru mengeluhkan kurangnya daya tahan murid membaca dan kurangnya dukungan guru lain dalam menciptakan iklim membaca untuk kesenangan atau untuk memenuhi rasa ingin tahu. Ia bahkan mengeluhkan kurangnya guru yang bisa membangkitkan rasa ingin tahu murid.

Saya sendiri sebagai pustakawan di sekolah, sudah agak lama menyerah terhadap keadaan ini. Tulisan ini dan obrolan dengan rekan guru yang merasakan keprihatinan yang sama menyadarkan bahwa saya harus berbuat sesuatu. Seberapa pun kecilnya itu, harus dimulai dari saya. Dan mulai dari sekarang.